Tampilkan postingan dengan label Hadist Khilafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadist Khilafah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Apakah Khilafah Hanya 30 Tahun???


Sebagian kelompok cendekiawan menggunakan beberapa hadits sebagai dalil bahwa keberadaan daulah Khilafah tidak berlangsung lama, yaitu hanya berlangsung sampai pada masa Khalifah ar-Rasyidun saja. Menurut mereka, setelah 30 tahun, kekhilafahan berubah menjadi sistem kerajaan-kekaisaran. Oleh sebab itu tidak ada gunanya memperjuangkan tegaknya khilafah, bahkan upaya tersebut mereka anggap hal yang bertentangan dengan hadits-hadits ini. Benarkah hadits-hadits tersebut bermakna demikian? Tulisan ini berupaya mengupas hadits-hadits tersebut, membandingkan dengan hadits-hadits lain dan merujuk pendapat para pakar hadits yang sudah mu’tabar. Sebelumnya saya kutip (copy paste arabnya) dari maktabah syamilah v. 3.24, penjelasan haditsnya juga saya telusuri dan ambil dari maktabah syamilah.
Hadits 1. HR. Ibnu Hibban dari Safînah, dan Ibnu Hibban mensahihkannya:

الخلافة ثلاثون سنة وسائرهم ملوك والخلفاء والملوك اثنا عشر

“Kekhilafahan itu (akan berlangsung selama) 30 tahun, (setelah itu) semuanya adalah para raja, dan (banyaknya) para khalifah dan para raja adalah 12 orang”
Hadits 2. HR. Ibnu Hibban jilid 15 hal. 392 No. 6943 (Mu’assasah Ar Risalah – Beirut) dengan sanad hasan, juga diriwayatkan Al Bazzar, Thabrani dalam Mu’jâm al Kabîr, & Abu Dawud.

الخلافة بعدي ثلاثون سنة ثم تكون ملكا

“Masa kekhilafahan (yang ada pada umat) sepeninggalku adalah 30 tahun, setelah itu adalah kerajaan”
Hadits 3. HR. Muslim No. 1821, Dâr Ihyâ’ At Turâts Al Arabiy, dari Jabir bin Samurah:

إن هذا الأمر لا ينقضي حتى يمضي فيهم اثنا عشر خليفة

Sesungguhnya urusan (kekhilafahan) ini tidak akan musnah sampai berlalu atas mereka 12 khalifah.
Hadits 4. HR. Ibnu Hibban, dari Jabir bin Samurah:

يكون بعدي اثنا عشر خليفة كلهم من قريش

“Akan ada setelahku 12 orang khalifah, semuanya dari (suku) quraisy.”
Hadits 5. HR. Ibnu Hibban, dari Jabir bin Samurah:

لا يزال الإسلام عزيزا إلى اثني عشر خليفة

Tidak henti-hentinya Islam dalam keadaan kuat sampai (berlalu) 12 orang khalifah (diriwayatkan juga oleh Thabrani, Ahmad, Muslim, Lihat Jâmi’ul Kabîr karya As Suyuthi)
Hadits 6. HR. Ibnu Hibban, Al Baihaqi, Ibnu “Asakir, Abu Ya’la, dari Abu Hurairah, beliau SAW bersabda:

سَيَكُونُ بَعْدِى خُلَفَاءُ يَعْمَلُونَ بِمَا يَعْلَمُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ وَسَيَكُونُ بَعْدَهُمْ خُلَفَاءُ يَعْمَلُونَ بِمَا لاَ يَعْلَمُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ أَنْكَرَ عَلَيْهِمْ بَرِئَ وَمَنْ أَمْسَكَ يَدَهُ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِىَ وَتَابَعَ

“Akan ada setelahku para Khalifah yang mengamalkan apa yang mereka ketahui dan mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Setelah masa itu akan ada para Khalifah yang mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka siapa saja yang mengingkari perbuatan mereka akan terbebas (dari dosa), dan siapa saja yang menahan dirinya dia akan selamat, tetapi siapa saja yang ridha dan mengikuti mereka (dia akan celaka)” (Al-Haitsami menyatakan bahwa perowinya perowi shahih, sedang Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik dia tsiqot /terpercaya).
Hadits 7. Hadits tentang akhir zaman, diriwayatkan Ibnu Majah Bab Khurûju Al Mahdi & Al Hakim dalam Kitâbu Al Fitan wa Al Malâhim, dari Tsauban r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka memerangi kamu dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal (yakni dalam jalan periwayatan yang lain yang dikeluarkan al hasan bin sufyan dalam musnadnya…lihat syarah), lalu bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi" (Al Hakim berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain (Bukhari – Muslim)" Perkataan Al Hakim ini juga disetujui oleh adz-Dzahabi).
Penjelasan Hadits
Kalau hanya difahami secara harfiah dari hadits-hadist tersebut:
Hadits 1 & 2: Kekhilafahan itu (hanya akan berlangsung selama) 30 tahun saja setalah itu semuanya adalah para raja, ujung hadits ini yang menyatakan: “(banyaknya) para khalifah dan para raja adalah 12 orang” yang berarti para khalifah dan para raja sepeninggal beliau SAW hanya 12 orang saja. Sedangkan faktanya khalifah dan ‘raja’ setelah beliau SAW wafat ada ratusan orang.
Hadits 3, 4, dan 5 yang menyebut ada 12 orang khalifah setelah beliau juga bertentangan dengan hadits bahwa khalifah hanya 30 tahun, karena selama 30 tahun hanya ada 4 orang khalifah, jadi selebihnya tidak bisa disebut khalifah kalau mau memakai hadits 1 dan 2. Sedangkan kalau mau menyebut yang 12 orang tersebut adalah khalifah, sedangkan 12 orang khalifah tersebut masa kekuasaannya sekitar 100 tahun, maka hadits 1 & 2 juga tidak bisa di pakai.
Karena banyak ‘pertentangan’ hadits ini, sedangkan Rasul SAW perkataannya adalah haq (benar) dan beliau tidak berbicara menurut hawa nafsu, maka kita tidak bisa mengambil pemahaman dari sepotong hadits saja, kemudian membuang yang lain, melainkan haruslah hadits tersebut dipahami dalam konteks maknanya masing-masing.
Hadits  6 dan 7 (dan beberapa hadits lagi yang tidak di tulis disini) menjelaskan apa yang dimaksud kata ‘khalifah’ dalam hadits 1 sampai 5.  Berkaitan dengan hadits 2, Al-Hafidz Ibnu Hajar, (wafat 852H) dalam Fathul Bâri, 12/392 menyatakan:

….لأن المراد به خلافة النبوة واما معاوية ومن بعده فكان أكثرهم على طريقة الملوك ولو سموا خلفاء

“…karena sesungguhnya yang dimaksud kata khilafah (dalam hadis ini –pent) adalah Khilafah Nubuwwah, adapun Muawiyah dan orang-orang setelahnya sebagian besar mereka menggunakan metode kerajaan, sekalipun demikian mereka tetap disebut Khalifah”.
Ini juga penjelasan Imam Nawawi (wafat 676 H), dalam Syarh Sahih Muslim, 12/201 yang mengutip pendapat Qadli Iyadh.
Oleh karena itu hadist 1 dan 2 tidak bertentangan dengan hadits 3 dan 4 yang menyatakan khalifah adalah 12 orang dan yang dimaksud dengan 12 orang ini yang dijelaskan dalam hadits 5, yakni saat ke 12 orang khalifah inilah umat senantiasa dalam kondisi kuat, yakniTidak henti-hentinya Islam dalam keadaan kuat sampai (berlalu) 12 orang khalifah. Sedangkan saat khalifah setelah ke 12 khalifah ini (sampai Umar bin Abdul Aziz) maka ada pasang surut kekuatan umat Islam.
Disisi lain, hadits yang menyatakan 12 orang khalifah juga tidak bisa dijadikan dalil bahwa khalifah hanya 12 saja (masih penjelasan al Qadli dalam Syarh sahih Muslim[1]), sebagaimana yang difahami syi’ah itsna asyariyah. Kalau saya bilang “saya lulusan SD” bukan berarti bahwa saya hanya lulus SD saja. Oleh sebab itu keberadaan khalifah setelah 30 tahun dan setelah 12 khalifah tidak bertentangan dengan hadits 1 s/d 5 dan hadits yang semakna dengan ini. Para Ahli sejarah juga menyatakan bahwa dari kalangan bani Umayyah, bani ‘Abbasiyah, dan bani Utsmaniyah, diantara mereka ada juga yang menjalankan kekhilafahan sebagaimana Khilafah Nubuwwah, seperti Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar 99 Hijriyah. Demikian juga terdapat seorang Khalifah yang mendekati Khilafah Nubuwwah dalam menjalankan kekhilafahannya, yaitu Adh-Dhahir Bi Amrillah yang dibaiat tahun 622 Hijriyah. Dalam hal ini Ibnu Atsir mengatakan: “Ketika Adh-Dhahir bi Amrillah memerintah nampak sekali dalam kekhilafahannya keadilan dan kebaikannya, seolah-olah keadaan itu kembali pada masa dua ‘Umar. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada khalifah yang menyamai ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz setelahnya selain Adh-Dhahir, dimana dia selalu berkata benar dan jujur”.
Demikian juga para Khalifah yang lain setelahnya hingga pada masa-masa kemundurannya, mereka tidak mengunakan sistem kerajaan atau sistem lain yang telah dikenal didunia, walaupun harus diakui sebagai manusia mereka juga punya kelemahan disana sini. Bahkan sistem kekhilafahan ini, merupakan sistem pemersatu yang agung sepanjang masa dan sistem ini terus diterapkan pada masa mereka, yaitu mulai masa para Kholifah Ar-Rasyidun sampai pada masa Khalifah Abdul Hamid II di Turki pada tahun 1924.
Hadits 6 menjelaskan bahwa khalifah bisa banyak, ada yang baik ada juga yang menyimpang karena mereka juga manusia, dan pada hadits ini diperintahkan untuk mengingkari penyimpangan itu, namun hadits ini tetap menyebut mereka sebagai kholifah.
Hadits 7 lebih jelas menunjukkan bahwa nanti akan tegak khilafah kembali, kembalinya Imam mahdi adalah saat khilafah sudah tegak, dan Imam mahdi adalah khalifah pengganti dari khalifah sebelumnya.Rasul SAW juga bersabda: "Kenabian akan ada pada diri kalian sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah, kemudian akan diangkat masa itu sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian masa otoriter akan ada kekhilafahan yang sesuai dengan manhaj kenabian sesuai dengan yang dikehendakiNya, kemudian akan diangkat masa itu sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian akan ada pemerintahan Mulkan Adhan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian akan diangkat masa itu sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian akan ada pemerintahan otoriter sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian akan diangkat masa itu sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, kemudian akan ada kekhilafahan yang sesuai dengan Manhaj Kenabian”. (HR. Imam Ahmad no. 17.680\ Musnad Kufiyin, hadis Marfu’ dalam Kitab Musnadnya). Dan ditambahkan lafadznya oleh Al-Bazzar rahimahullah …. “ Dimana Institusi ini akan menerapkan Sunnah kepada Umat manusia. Maka penghuni langit dan bumipun meridhoinya. Hingga tidak ada bagian dari langitpun yang tersisa selain diturunkan kepadanya. Dimana kenikmatan dan juga tanaman di bumi pun tidak tersisa kecuali dikeluarkan untuknya“. Dan tatkala hadis ini disampaikan oleh Ibn Nu’man (yaitu salah seorang perawi hadis ini) kepada Umar bin Abdul Aziz ra. maka Umar-pun ta’jub terhadapnya (yaitu hadis yang disampaikan oleh Ibn Nu’man) (HR. Al-Bazzar jilid 7\hal. 224 dalam kitab musnad Al-Bazzar)”.
Khatimah
Dari rangkaian penjelasan diatas jelaslah bahwa terlalu gegabah kalau hanya melihat satu atau dua hadits lantas menyatakan bahwa khilafah hanya 30 tahun, pernyataan ini merupakan pengingkaran terhadap hadits Rasulullah yang lain, padahal antar hadits tersebut membawa pengertiannya masing-masing, dimana konteks yang satu berbeda dengan yang lain. Disisi lain Islam menyatakan bahwa khalifah bukanlah representasi (wakil) Tuhan sebagaimana ajaran teokrasi, namun khalifah disini adalah khalifatur rasul (pengganti rasul) dalam masalah kekuasaan, bukan dalam masalah kenabian, sehingga khalifah bisa juga keliru, salah, atau lalai. Disinilah Islam mewajibkan umat untuk mengontrol khalifah dalam menjalankan tugasnya. Allahu A’lam [M. Taufik NT]

Jumat, 22 Juni 2012

Bisarah Rosulullah SAW dan Bukti-buktinya


Di beberapa situs internet ada yang meragukan hadits Imam Ahmad tentang akan kembali berdirinya khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah,dengan hanya mengandalkan dugaan semisal: “Saya (penulis blog tsb[1]) menduga kuat bhw Habib (bin Salim, perowi hadits) mencari muka di depan khalifah”. Disisi lain ia justru memakai perkataan Habib Bin salim yang dia pandang “bermasalah” untuk menyatakan: “Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka Umar Bin Abdul Azis termasuk golongan para raja yang ngawur :-) ”. Anehnya kalau hadits ini diragukan, namun tidak terungkap adanya keraguan saat menulis kelamnya sejarah semisal : “Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah … mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya”
Tulisan ini tidak akan menanggapi semua yg ada di tulisan blog tersebut, juga tidak bermaksud menyerang pribadi penulis blog tersebut, namun hanya akan membahas seputar hadits kembali berdirinya khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwwah, adapun hal-lain di tulisan pada blog tersebut pembaca bisa menilai sendiri betapa “ajaib”nya tulisan pada blog tersebut.
Takhrij Hadits Kembali Berdirinya Khilafah ‘Ala Minhaaj Al-Nubuwwah
Sebetulnya bukan hanya hadits ini yang membahas khilafah yang akan datang, namun tulisan ini hanya mengulas takhrij hadits ini dan yg berkaitan dg hadits ini.
Imam Ahmad meriwayatkan:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy; di mana ia berkata, "Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, "Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, "Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, –Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, "Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah kamu hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, "Saya hafal khuthbah Nabi saw." Hudzaifah berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".[HR. Imam Ahmad]
Takhrij Hadits
Hadits ini bersumber dari Musnad Imam Ahmad, hadits no.17680, juga musnad al Bazzar (no. 2796). Riwayat ini termasuk haditsmarfu’ (bersambung hingga sampai Rasulullah saw).
Sanad Hadits:
image 
Tentang Perowi Hadits:
1. Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy.
  • Nama Lengkap : Sulaiman bin Daud bin Al Jarud
  • Kalangan : Tabi’ut Tabi’in kecil (shugra min al-atbaa’)
  • Nasab : al-Thayaalisiy.
  •  Kunyah: Abu Dawud.
  • Negeri semasa hidup : Bashrah
  • Wafat : 204 H di Bashrah
  • Guru-gurunya: Aban bin Yazid, Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar bin ‘Isyasy bin Salim, Ishaq bin Sa’id bin ‘Aman bin Sa’id bin al-’Ash, Israil bin Yunus bin Abi Ishaq, Ismail bin Ja’far bin Abi Katsir, Asy’ats bin Said, Bustham bin Muslim bin Numair, Tsabit bin Yazid, Jarir, bin Hazm bin Zaid, Habib bin Abu Habib Yazid, Harb bin Syaddad, Huraisy bin Salim, Al-Hasan bin Abi Ja’far ‘Ijlaan, al-Hakam bin ‘Athiyyah, Himad bin Salamah bin Dinar, Humaid bin Abi Humaid Mahran, Kharijah bin Mush’ab bin Kharijah, Khalid bin Dinar, Dawud bin Abi al-Farat ‘Amru bin al-Farat, Dawud bin Qais, Rubbah bin ‘Ubadah bin al-’Ilaa`, Zaidah bin Qudamah, Zum’ah bin Shalih, Dawud bin Ibrahim, Zuhair bin Mohammad, dan lain-lain.
  • Murid-murid yang meriwayatkan hadits darinya adalah, Ahmad bin Ibrahim bin Katsir, Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Ali bin Suwaid bin Manjuf, Ahmad bin ‘Ubadah bin Musa, Ahmad bin Mohammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad, Ishaq bin Manshur bin Bahram, Hujjaj bin Yusuf bin al-Hujjaj, Al-Hasan bin ‘Ali bin Mohammad, Khalifah bin Khiyaath bin Khalifah bin Khiyaath, dan lain sebagainya.
  • Komentar ‘Ulama:
ULAMA
KOMENTAR
Ahmad bin Hambal
Tsiqqah Shaduuq (Dia tsiqqah dan terpercaya)
Yahya bin Ma’in
Shaduuq (orang yang paling terpercaya)
Ali al-Madaniy
"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling kuat hafalannya dibandingkan dirinya"
Al-’Ajalaniy
Tsiqah banyak hafalannya
Ibnu Mahdi
manusia paling terpercaya (ashdaaq al-naas)
Adz Dzahabi
Alhafidz
Amru bin Fallas
"Aku tidak pernah melihat ahli hadits yang lebih hafal dibandingkan dirinya".
2. Dawud bin Ibrahim al-Waasithiy.
  • Nama Lengkap : Daud bin Ibrahim
  • Kalangan : Tabi’in kecil
  • Nasab: al-Wasithiy
  • Negeri semasa hidup : Bashrah
  • Murid beliau adalah Sulaiman bin Dawud al-Thayaalisiy, dan ia berguru kepada Habib bin Salim. Para ahli hadits menyatakan bahwa ia adalah tsiqqah (kepercayaan).
3. Habib bin Salim
  • Nama Lengkap : Habib bin Salim
  • Kalangan : Tabi’in kalangan pertengahan
  • Nasab: al-Anshoriy.
  • Murid : antara lain Ibrahim Bin Muhâjir Bin Jâbir (Abu Ishaq), Bisyr Bin Tsâbit (Abu Muhammad), Basyîr Bin Tsâbit, Ja’far Bin ‘Iyâs, Khalid Bin Mihran, Muhammad Bin Al Muntasyir, dll
  • Komentar Ulama:
ULAMA
KOMENTAR
Abu Hatim Ar Rozy
Tsiqah
Abu Daud al-Sajastaniy
Tsiqah
Ibnu Hibban
mentsiqqahkannya
Al Bukhari
Fiihi Nadzor (haditsnya perlu diteliti)
4. An Nu’man bin Basyir
  • Nama Lengkap : An Nu’man bin Basyir binb Sa’ad
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat : 65 h
  • Murid : antara lain Azhar bin ‘Abdullah bin Jami’, Habib bin Salim, al-Hasan bin Ali al-Hasan Yasar, al-Husain bin al-Harits, Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Haitsamah bin ‘Abdurrahman bin Abi Sabrah, Rabi’ah bin Yazid, Sammaak bin Harb bin Aus, Al-Dlahhak bin Qais bin Khalid al-Akbar bin Wahab, dan lain-lain
5. Hudzaifah
  • Nama Lengkap : Hudzaifah bin Al Yaman
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu ‘Abdullah
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat : 36 H
  • Murid : antara lain Abul Azhar, Abu ’Aisyah, Abu ’Ubaidah Bin Hudzaifah, Al Aswad Bin Yazid Bin Qais, Jundub Bin Abdillah, dll
Status Hadits
Al-Hafidzh Al-Iraqi (wafat 806 H), guru dari Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy (wafat 852 H), di dalam kitabnya Mahajjatul-Qarb ila Mahabbatil-Arab (II/17), mengatakan :"Status hadits ini shahih”, Syu’aib Arna’uth menyatakan : sanadnya baik (isnâduhu hasan), Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id (5/341) menyatakan perowi-perowinya terpercaya, Al Albani menshahihkan dalam Silsilah As Shahihah (1/34).
Adapun komentar Imam Bukhory tentang Habib bin Salim, tidak otomatis menjadikan hadits ini lemah, namun perlu diteliti, dan hasil penelitian para ahli hadits mereka tidak melemahkan hadits ini. Imam Muslim sendiri juga meriwayatkan hadits dari Habib Bin Salim semisal hadits: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membaca surat Al A’la dan surat Al Ghasyiah dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at. Bila shalat Id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau juga membaca kedua surat tersebut dalam kedua shalat itu."[2]
Selain Imam Muslim, Habib Bin Salim juga merupakan perowi Abu Dawud (4 hadits), At Tirmidzi (3 hadits), an Nasa’i (8 hadits), Ibnu Majah (2 hadits), Imam Ahmad (16 hadits) juga ad Darimi ( 4 hadits). Seandainya mengikuti logika penulis blog tersebut, niscaya para ahli hadits tidak akan memuat Habib Bin Salim sebagai perowi hadits mereka.
Perkataan Habib Bin Salim di akhir Hadits ini

قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ

Habib berkata; “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi khalifah dimana Yazid bin an-Nu’man bin Basyir mendampinginya, aku menulis hadits ini untuknya dan aku mengisahkan hadits ini kepadanya dan aku katakan; “Aku berharap dia, maksudnya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjadi amirul mu’minin setelah kekuasaan kerajaan yang bengis dan pemerintahan diktator” Lalu suratku itu diberikan kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, maka dia senang dan mengaguminya”.
Dalam tulisan di blog tersebut dan blog lain yg satu selera, mereka menjadikan hal ini sebagai alasan bahwa kalau khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ‘ala minhâjin nubuwwah yang kedua, maka masa khilafah telah berakhir, lalu dengan sembrono ditulis:“Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka umar bin abdul azis termasuk golongan para raja yang ngawur :-) ”. Sungguh ajaib ungkapan seperti ini, yg para ahli hadits pun tidak berlogika seperti ini, tepat apa yg dikatakan al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bâry (5/446):

وَإِذَا تَكَلَّمَ الْمَرْء فِي غَيْر فَنّه أَتَى بِهَذِهِ الْعَجَائِب

“jika seseorang berbicara (dengan logikanya sendiri) dalam hal yang bukan bidangnya, maka akan mendatangkan keajaiban seperti ini”[3]
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kasus ini, yakni:
  • Perkataan Habib bin Salim bukanlah hadits, sehingga tidak menjadi dalil syara’. Anehnya perkataan Nabi SAW yg diriwayatkan Habib bin Salim dia tolak karena menurut dugaannya Habib bin Salim cukup “bermasalah” dan cari muka, namun perkataan pribadi Habib bin Salim dia lontarkan untuk menjustifikasi logika ajaibnya.
  • Habib bin Salim dalam perkataannya tidak menyatakan Umar bin Abdul Aziz sebagai khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yg dimaksud hadits ini, beliau hanya mengharap, perhatikan kalimat beliau:

إِنِّي أَرْجُو الخ

Aku berharap …
  • Hadits-hadits yang bicara tentang akhir zaman, akan adanya Khalifah al Mahdi sebagai khalifah pengganti dari khalifah sebelumnya yang wafat. Imam as Syaukani (wafat 1250 H) menyatakan bahwa terdapat lima puluh hadits yang terdiri atas hadits shahih, hasan, dan dha’if yang berbicara tentang al Mahdi, salah satu hadits shahih diriwayatkan Ibnu Majah dalam kitab sunan Ibnu Majah bab Khurûju Al Mahdi & Al Hakim dalam Kitâbu Al Fitan wa Al Malâhim, dari Tsauban r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِفَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka memerangi kamu dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal , lalu bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai’atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi" (Al Hakim berkata, "Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhain (Bukhari – Muslim)" Perkataan Al Hakim ini juga disetujui oleh adz-Dzahabi).
Jadi dari hadits ini, jelaslah bahwa Khilafah akan tegak sebelum turunnya al Mahdi, dan al Mahdi adalah khalifah pengganti dari khalifah sebelumnya (tidak diceritakan ada berapa khalifah sebelum al Mahdi).
Oleh karena itu tidak kita jumpai ahli hadits maupun ahli sejarah yang mu’tabar yang mempunyai pemikiran seperti tertulis dalam blog tersebut, bahkan sangat masyhur bahwa setelah khalifah Umar Bin Abdul Aziz masih ada para khalifah setelahnya. Allahu Ta’ala A’lam
Baca Juga:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India